Polemik seputar gaya hidup DPR nampaknya tidak pernah usai. Setelah beberapa waktu lalu masyarakat dibuat gerah oleh inisiatif DPR untuk disediakan laptop mewah seharga puluhan juta rupiah dan setelah hampir saja rumah baru supermewah yang diusulkan oleh DPR nyaris dibangun, kini masyarakat indonesia dibuat tergeleng -geleng oleh gaya hidup supermewah - hedonis yang diperlihatkan oleh para wakil rakyat. Sebagai contoh kita ambil mobil para anggota DPR.
Jika anda sempat mampir ke lapangan parkir gedung DPR, mungkin anda akan terkesima dengan jejeran mobil-mobil mewah yang ada di situ. Anda mungkin berdecak kagum seraya mengagumi kekayaan para pemiliknya. Tetapi segera setelah anda tahu para pemiliknya, mungkin kekaguman anda berubah menjadi kekecewaan dan malah hujatan. "Tidak tahu diri benar para wakil rakyat ini" atau "dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli mobil semahal ini", mungkin kata - kata ini akan keluar dari mulut anda atau mungkin anda akan mengeluarkan kata - kata yang lebih keras atau bahkan lebih kasar dari itu.
Secara pribadi saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, "sadarkah para wakil rakyat akan realitas masa yang mereka wakili?'' Pertanyaan ini bagi saya sangat penting untuk dikemukakan, oleh sebuah alasan.
Nama adalah identitas (Nomen est omen)
Ungkapan ini bisa menggugat segala yang melekat dalam predikat wakil rakyat. Mereka ada di senayan untuk mewakili masyarakat yang telah memilih mereka. Mereka adalah wakil dan bukan tuan. Sebagai wakil mereka harus memahami hidup, bahasa dan seluruh realitas dari masyarakat yang mereka wakili. Dengan kata lain, mereka harus hidup, bertutur kata dalam bahasa orang-orang (masyarakat) yang mereka wakili. Mereka tidak boleh melampauinya. Karena jika demikian yang terjadi maka mereka tdak lagi disebut wakil melainkan pengkhianat.
Menjadi wakil rakyat berarti hidup, berpikir dan bertindak untuk orang-orang yang mereka waikili. Gaya hidup mereka harus mencerminkan realitas masyarakat yang mereka wakili. Gaya hidup mewah bertentangan dengan prinsip ini. Wakil rakyat harus mengawini realitas masyarakat indonesia yang sebagian besarnya hidup di bawah garis kemiskinan. Tentu ini tidak berarti bahwa mereka harus hidup melarat. Yang saya maksudkan dengan mengawini realitas masyarakat yang diwakili berarti mereka memahami realitas masyarakat, lalu hidup solider dengan masyarakat dan berjuang untuk memperbaiki hidup masyarakat yang mereka wakili. Inilah yang disebut sinergi dan pertautan. Inilah yang saya maksudkan dengan nama adalah identitas (nomen est omen).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar