Sabtu, 09 Februari 2013

Ironi Perubahan ala Nasdem


            Menarik untuk melihat perkembangan partai politik Nasdem dalam beberapa waktu belakangan ini. Jargon politiknya ‘gerakan perubahan’ menjadi daya pikat tersendiri terutama untuk generasi muda. Dan yang paling menarik sekaligus mengundang pertanyaan dari semua fenomena Nasdem adalah pengukuhan Surya Paloh sebagai Ketua Umum Nasdem di hari pertama kongres pertama partai ini tanggal 25 Januari 2012.
            Ini menarik karena pertama, Nasdem adalah partai yang gencar mengkampanyekan perubahan dengan politiknya “Restorasi Indonesia”. Kedua, karena tokoh yang dikukuhkan menjadi Ketua Umum partai adalah Surya Paloh yang nota bene pendiri ormas Nasdem dengan sayap politiknya kemudian Partai Nasdem. Ketiga, karena semenjak pengukuhan ini masih sebagai wacana beberapa tokoh teras partai Nasdem ramai-ramai keluar dari partai. Keempat, karena jalan kepada pengukuhan ini tidak melalui sistem pemilihan demokratis melalui mana setiap peserta kongres yang memiliki hak pilih menggunakan haknya untuk memilih sekaligus dipilih.
               
Pengukuhan: Antitesis Perubahan
            Perubahan. Itulah yang diusung Surya Paloh dan Partai Nasdem. Tetapi itu pula yang dikhianati keduanya. Mengapa? Pertama, perubahan secara sederhana berarti melepaskan sikap, tingkah laku sekaligus kebiasaan lama yang kurang baik menuju sesuatu yang baru yang lebih baik. Dengan kata lain perubahan berarti pembaruan. Perubahan secara sosial politik bisa berarti menganti atau menyesuaikan sistem, peraturan lama dan buruk dengan sesuatu yang baru, yang lebih baik agar aliran kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun aspek lainnya bisa berlangsung dengan baik. Nasdem awalnya dilihat sebagai motor politik yang membawa gerbong perubahan. Karena itu tingkat elektabilitas partai ini menurut poling oleh beberapa lembaga survei ditempatkan dalam kelompok 5 besar parpol pemenang pemilu 2014. Nasdem oleh jargon politik ‘perubahan’ yang dikumandangkannya diharapkan menjadi antithesis kecenderungan oligarki kelompok/parpol yang dikuasai oleh kalangan kapitalis yang merambah politik demi tujuan ekonomi.
Tetapi apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini menunjukkan perkembangan sebaliknya. Nasdem jatuh ke dalam lubang terjal status quo yang pernah coba ditimbunnya dengan batu-batu perubahan. Pengukuhan Surya Paloh sebagai ketua umum Nasdem menunjukkan ego politk yang sangat besar sang pendiri yang bertumpu pada hasrat akan kekuasaan yang hampir tidak terpuaskan sekaligus menunjukkan lemahnya kehendak bersama DPP dan segenap pemangku kepentingan untuk menentang pengukuhan itu demi perubahan. Karena perubahan adalah pelepasan semua ego dan hasrat egotis kekuasaan seperti itu.
Kedua, Nasdem dalam sekejap telah berubah menjadi antitesis perubahan. Partai ini mengkhianati roh yang menginspirasi sekaligus menggerakkannya, ia mencabik-cabik pesona yang pernah membuat begitu banyak rakyat terpesona. Elan vital yang memberinya hidup dan gairah telah ditinggalkannya. Maka tidak heran ratusan kader potensial meninggalkannya karena ia terlalu cepat berubah rupa dan menua digerogoti hasrat akan kekuasaan yang begitu mencabik-cabik pesona mudanya di satu sisi dan lemahnya pembelaan terhadap mekanisme demokrasi sebagaimana jargon restorasi yang dikampanyekannya di sisi lain. Walau ia masih bertahan, roh yang menggerakkannya telah meninggalkannya. Dia tidak lagi punya pesona yang menjadi kekuatan pembeda dari parpol yang lain.